Postingan

Tanpa Judul

Gambar
Diruang ini tidak sendiri, ada beberapa yang dalam dunianya sendiri. Sosok itu sibuk dengan teriakan dari lanang yang inginkan kepuasan. Bibirnya mengerucut, matanya mendelik, ada kerutan yang tidak biasanya di dahi yang isyaratkan kekesalan. Kini hidungnya mulai mengencang, jantungpun mulai tidak beraturan. Hmmm… pemandangan yang menyenangkan.. ^^
Tubuhnya kini bersandar disofa, keinginannya berselancar di dunia maya mengacuhkan kondisi yang ada. Dan seperti memperlakukan seorang bocah yang inginkan es krim, smartphone itupun kini dengan sukarela berpindah hati. Untung saja tertolong dengan mahluk gaib ciptaan manusia (read.laptop). Setidaknya otak ini kembali berjumpalitan dengan mengejar abjad-abjad yang bersahabat. Beberapa lagu menjadi suporter dalam menyelami setiap makna dari kalimat yang tertumpahkan disini. Mungkin, bukan kalimat yang menyemai keindahan. Bukan pula susunan kata yang menjadikan mutiara. Tapi dapat menghibur beberapa perasaan yang sempat terkubur.
Keadaanpun me…

Dear Hati

Gambar
Dear Hati... Kali ini kamu singgah dengan merusuhkan perasaan, mengeraskan yang sebelumnya lembut. Jauh dan berat. Terpikir, ketika yang hanya titik saja tidak mendinginkan suasana, apa jadinya jika menjadi sebuah lingkaran? Dan ketika rasa sayang yang kita punya tanpa batas, namun hanya sekedar untuknya, bisakah memaksakan? Tidak ada yang menjadikannya seperti semula. Dan kini, sepertinya irisan-irisan kecil itu tertoreh. Kecewanya menjauhkan dari rasa sebenarnya. Kata maaf pun seperti sudah tidak di indahkan. Hhhhh.. 
Dear Hati... Mengingat dan merindunya hari ini, adalah suatu hal yang menyiksa. Berulangkali deras ini jatuh dari kedua mata yang mengharapkan kedatangannya. Mungkin ini menjadi akhir ketika sebelumnya ada kisah yang semakin membuat rasa ini tak ingin pergi darinya..
Dan sepertinya, akan kembali kehilangan...
Dear Hati...
Andai saja, isi kepala ini hanya tentang satu hal. Tapi Allah memberi banyak hal, terkadang merasa sendiri, merasa ingin berlari, pergi jauh dari se…

LENTERA #2

Gambar
11.30 Wib Waktu yang kamu tentukan hari ini untuk kita bertemu, harus selesai sekarang! Pintamu lewat whatsapp, dan akupun memberikan emoticon tanda setuju.
Gaduh dan rusuh perasaanku kini, sengaja kusibukkan diri dengan beberapa kegiatan. Hanya untuk coba melenyapkan perasaan yang entah disebut apa. Mengingatmu adalah cahaya, mengingatmu adalah rindu, mengingatmu adalah candu. Hhhhh.. haruskah berakhir sekarang? Fiuhh.. 
Jarum jam diangka 11.18 Wib 12 menit lagi wajahmu akan menari bebas dihatiku, bahkan mungkin liar mencakar-cakar direlung yang terdalam. Hukuman apa ini Tuhan? Lirih ku mengeluh. Detak jarum jam saat ini tak ingin kudengar, semakin gila rasanya harus menemuimu dan akhirnya meninggalkanmu. Hhhh.. lagi-lagi menghela nafas.

Ternyata kamu terlambat, cukup lama aku menunggu di depan minimart. Kesabaranku semakin diuji rasanya. Cuaca panas menambah kegelisahan yang tak sedetikpun mau hilang. Tapi aku menunggu, akan terus menunggu sampai akhirnya kita sepakat meninggalkan …

Aku Bukan Kaktus

Gambar
Semula menawarkan kebaikan, kebijakan, keserdehanaan, ketulusan, kegilaan dan apapun itu yang bisa kusebut sebuah anugerah mengenal sosokmu. Tidak tampan tapi menawan, kasar namun masih memiliki kelembutan. Sebagian hati merestui kebersamaan saat bersamamu. Nyaman.. begitulah rasanya, sepertinya akan kembali menemukan sosok teman yang menyenangkan.

Kamu yang gila, kamu yang  egois namun menutupinya dengan senyuman manis. Bagaimanapun akan selalu ada rasa saling menghargai ketika kamu dan aku sedang menjemput mimpi.
Langit mengelap terang, mengubah wajah birunya dengan mendung yang kelam. Sore itu kita baik-baik saja, bahkan tawa kita dibawa angin seiring perjalanan. Perut bumi seolah menjadi saksi bahwa kita sahabat sejati. Saling menjaga dan memahami. Sempat kita melepas kepenatan dalam saung yang menyajikan dua piring pecel ayam.

Heii.. kamu, lelaki egois dan gila. Menyudutkan ruh ini dalam barisan kaktus. Tak pelak jalanan yang terpijak akan sangat menyakitkan sekarang. Kegilaanmu…

LENTERA

Gambar
Entah sudah berapa senja menemani pertemuan kita, dengan siluetnya yang terkadang manis dan miris. Sudah berapa kali gerimis memayungi kebersamaan kita, bahkan dalam ruang itu kita kerap merapal kata-kata yang mengusir kejenuhan... Pertemuan memang sebuah rahasia, begitu pun perpisahan... 
Kita bertemu lalu dipisahkan, itu adalah hal yang sudah ditawarkan hidup. Namun bukan berarti kita harus membenci keadaan. Bagaimanapun kita akan selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan yang berbeda. Hari ini begini,esok begitu, lusa dan yang akan datang pun tidak sama. Tidak menjadi haram ketika soal hati harus terhenti, namun tidak juga halal ketika kita tahu perbedaan itu tidak bisa disatukan, namun kita menuntut demikian.
Rumitnya isi kepala sekarang seperti tengah berada dalam belukar yang dipenuhi alang-alang yang tinggi. mengajak jemari untuk beberapakali menggaruk yang sudah terkeruk. Ini apa??? Reaksi dari jawaban yang di inginkan pun menjadi suram. 
Tiba-tiba pengap, sesak...
Dan tengg…

Perkara Manusia...

Gambar
Perkara Manusia...  Merasa BENAR adalah salah, tapi cobalah merasa SALAH agar tahu caranya untuk BENAR...
Nasehat itu tidak melulu dengan sebuah ayat atau hadist, tapi sikap dan sifat yang jadi kebiasaan juga dapat jadi NASEHAT bagi yang berpikir... Simplenya NGACA dulu sebelum kasih statement orang lain itu begini dan begitu, kurang ini kurang itu... 
Apalagi statement ditujukan kepada orang terdekat. Sadar diri itu penting, benahin diri sendiri lebih penting! Jangan khilaf, orang terdekat adalah yang tahu segalanya tentang kita. Nggak lucu tetiba kamu mau pasanganmu berubah, sedangkan kamunya masih SALAH! 
Baru separuh perjalanan lho.. Masih panjang dan rumit perjuangannya, jangan kufur nikmat yang efeknya bisa buat HATI nggak SEHAT! Hargai diri sendiri dulu, kalau belum bisa hargai orang lain. Nggak perlu umbar kita yang paling SABAR, karena tabir kehidupan tetap butuh keselarasan! .
Jauhkan kami dari kebiadaban, ketika dekat.. RAJAM!
#gituaja

Dear Pelangi...

Gambar
Dear Pelangi....
Ada rasa yang sudah lama senyap dalam hitungan waktu. Tapi kini, rasa itu kembali mengeristal seperti sekumpulan gerimis yang berubah menjadi hujan. Bahkan ketika warnamu terlihat contrast, ada sesak yang menyulitkan bernafas... 


Pelangi...  Siluet senja tengah kehilangan arah, tengah mencari tentang sesuatu yang hilang yang pernah dikisahkan. Siluet senja kini semakin mengecil karena ketidaktahuan, semakin terjauh karena tak mampu mengimbangi keindahan warnamu. 
Siluet senja merasa sendirian, merasa kosong bahkan seperti tak punya lagi kepercayaan diri, karena terjepit pada gundukkan yang sudah lama menghimpit. Tak ada lagi jingga yang mengemas pesonanya. Semakin hari, semakin menikmati kegelisahan. Perjuangan dan ketegarannya hanya barisan siluet yang memanjakan penikmatnya sesaat.
Entahlah... Mungkin hal yang wajar ketika sekarang siluet senja membosankan, menyebalkan bahkan mengecewakan. Ya! Terlalu sakit memang... tak perlu di maafkan, sudahi pun mungkin pilihan bijak…